“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” - Yohanes 14:21
Mengasihi dengan iman mendatangkan pengalaman yang menarik. Alkitab berkata bahwa kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita, serta mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Kita harus mengasihi musuh kita dan saudara seiman kita. Ini adalah perintah. Jikalau kita tulus kepada Kristus, seharusnya kita belajar bagaimana mengasihi. Kasih merupakan tindakan kemauan, yang melalui kuasa Roh Kudus dapat kita nyatakan dengan iman.
Seorang pengacara terkenal menemui William Bright pada suatu hari. Dia pernah menjabat sebagai ketua perkumpulan alumni salah satu sekolah hukum paling terkenal di Amerika Serikat dan merupakan mitra senior dalam sebuah kantor paling bergengsi. Orang ini mempunyai seorang mitra pengacara yang juga sangat terkenal, kaya, dan berpengaruh. Keduanya mempunyai ego kuat dan akibatnya mereka saling tidak menyukai. Mereka berusaha saling menjatuhkan selama bertahun-tahun. “Aku tidak menyukai orang ini selama bertahun-tahun,” kata pengacara ini kepada William Bright, “tetapi sekarang karena aku telah menjadi seorang Kristen, aku merasa tidak enak membenci dia. Sekarang apa yang dapat aku lakukan?” Bright menjawab: “Anda harus menemuinya, mintalah maaf atas sikap anda yang lalu, dan katakan kepadanya bahwa anda mencintainya,” “Aku tidak mengasihinya,” jawab pengacara ini. “Tetapi aku juga tidak membencinya lagi.” “Baik,” kata William Bright, "Anda diminta Tuhan untuk mengasihinya. Jikalau dia itu sesama manusia, Anda harus mengasihinya. Jikalau dia itu musuh anda, anda juga harus mengasihinya. Tidak ada jalan lain. Anda diperintahkan untuk mengasihinya.” “Aku tidak ingin menjadi seorang munafik,” kata pengacara ini. “Aku tidak akan mengatakan kepadanya bahwa aku mengasihinya padahal sebenarnya tidak.” "Ini hanya soal kemauan," William Bright coba menerangkan lebih lanjut. "Anda harus memutuskan apakah anda mau menaati perintah Tuhan atau tidak. Yesus berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi Bapa- Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (Yohanes 14:21).
Melalui 1 Korintus 13 kita dapat belajar bahwa kita bukan seorang munafik jika kita tidak mempunyai kasih dalam perasaan kepada seseorang, kita mengasihi mereka sebab kita diperintahkan untuk mengasihi mereka, dan dengan iman kita menyatakan kasih itu kepada mereka. Kasih itu sabar dan lemah lembut, tidak pernah iri hati atau sombong. Kasih merupakan pernyataan kemauan. Kita memutuskan sebagai satu tindakan kemauan apakah kita akan mengasihi atau tidak. Tetapi ingat bagaimana untuk bisa dipenuhi Roh: bertindaklah atas dasar perintah Tuhan dan minta janji Tuhan. Perintah-Nya adalah agar mengasihi mengasihi Allah, mengasihi sesama manusia, mengasihi musuh kita. Janji-Nya adalah bahwa bila kita meminta sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, Dia akan mengabulkan. Jadi Allah berkata, "Kasihilah ibu mertuamu, ayah mertuamu, sesamamu manusia, saudara laki-lakimu, saudara perempuanmu, bahkan orang yang telah merugikanmu." Mengapa kita mengasihi mereka? Sebab itu perintah Tuhan. Bagaimana kita melakukannya? Dengan iman kepada janji-Nya. Kita berkata, "Tuhan, Engkau menyuruh aku mengasihi orang yang sangat menjengkelkan itu. Secara manusia aku tidak bisa, tetapi atas dasar perintah-Mu, aku tahu ini adalah kehendak-Mu, dan aku mengasihi dia dengan kasih yang disebut dalam 1 Korintus 13, Aku tahu bahwa bila aku meminta sesuatu dalam nama-Mu, Engkau akan mendengar dan mengabulkannya. Dengan iman aku meminta kasih untuk orang ini.” Rasul Paulus menulis, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami” (II Korintus 5:14). Karena Dia mengasihi melalui kita, kita bisa mengasihi orang lain bahkan mengasihi mereka yang kita pikir tidak mungkin untuk dikasihi.