“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” - (Lukas 18:14)
Salju longsor sudah memakan korban kira-kira tiga puluh orang per tahun di Amerika Serikat. Kalau hal ini terjadi, berikut ini adalah kiat untuk bertahan hidup di tengah salju longsor: Meludahlah terlebih dulu, kemudian galilah jalan keluar. Cukup mudah, bukan? kesalahan besar yang dibuat orang terjebak dalam salju longsor adalah menggali jalan keluar secara membabi-buta yang justru membuat semakin terjebak lebih dalam lagi.
Ketika Yesus datang ke dunia sebagai rabi, ada banyak kebingungan tentang tujuan hidup yang harus dituju. Setiap orang berusaha mencari terang, tapi mereka hanya menggali semakin jauh ke dalam. Namun Yesus datang untuk mengarahkan kompas satu kali dan selamanya. Perhatikan ucapan bahagia Yesus yang ketiga. Yesus berkata bahwa jalan untuk menuju ke atas adalah bergerak ke bawah dan jalan menuju ke bawah adalah bergerak ke atas. Berbahagialah orang yang rendah hati, karena mereka akan memiliki bumi. (Mat. 5:5 NET). Orang yang rendah hati akan mewarisi bumi? Ucapan ini begitu terdengar ironis. Karena, sepertinya bintang Hollywood, pemimpin dunia, dan para pembuat sensasilah yang menjadi pilihan utama. Namun, Yesus berkata “sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk. 18:14)
Ditantang untuk Menentukan Arah
Yesus berkata bahwa jalan menuju ke atas adalah dengan bergerak ke bawah. Dalam Lukas 18, Yesus mengisahkan perbandingan dua sistem penentuan arah, yaitu sistem-Nya dan sistem dunia ini. Ini kisah tentang dua oang, yang satu adalah seorang Farisi yang dikagumi masyarakat Yahudi karena dikenal cerdas, berkomitmen pada hukum Ibrani, dan berpengaruh sehingga mereka ada di puncak tangga sosial. Sementara si pemungut cukai dikenal bekerja untuk kekaisaran Romawi, dan dicap sebagai pengkhianat bagi bangsanya. Di posisi mana anda?
Merendahkan Diri Saya Sendiri
Jangan melewatkan tiga kata dari Yesus di akhir perumpamaan tentang si orang Farisi dan si pemungut cukai: "barangsiapa merendahkan diri" (Luk. 18:14). Kata merendahkan hati atau merendahkan diri bukan aktivitas pasif, di mana seseorang atau sesuatu memaksa kita untuk merendahkan hati, contohnya saat seseorang merendah karena tidak punya pekerjaan, impian yang tidak terwujud. Tapi, Yesus berbicara tentang kerendahan hati yang aktif. Contohnya, pada tahun 2013, Nik Wallenda memiliki rating siaran TV tinggi menjadi orang pertama yang berjalan melintasi Grand Canyon di atas seutas tali. Bagaimana ia mengendalikan kesombongan ketika dia jadi yang terbaik di dunia dan jutaan orang bersorak bagi dia? Bagi Nik, kerumunan orang berdatangan dan berjubel-jubel hanya menghasilkan sampah di sepanjang jalan hatinya. Dia lebih memilih untuk pulang berjalan kaki berjam-jam tidak menaiki limosinnya dan memunguti sampah yang ditinggalkan penggemarnya.
Filipi 2 menyatakan: “Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, la telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Ini adalah mahakarya dari kerendahan hati, yaitu teladan Kristus.
Pertanyaan untuk didiskusikan: