“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak mencari keuntungan diri sendiri” - 1 Korintus 13:4-5
Paulus dalam 1 Korintus 13 menyatakan: "la tidak cemburu. la tidak memegahkan diri dan tidak sombong. la tidak melakukan yang tidak sopan" (1 Kor. 13:4-5). Dengan dinyatakan secara positif, istilah-istilah ini memanggil kita pada kemurahan, kerendahan hati dan kesopanan sebuah gaya hidup yang menganggap orang lain lebih penting daripada diri kita sendiri. Sikap cemburu adalah respons berdosa pada kesuksesan orang lain, sementara memegahkan diri, kesombongan, dan perilaku yang tidak sopan merupakan respons berdosa pada kesuksesan apa pun yang kita miliki sendiri.
Dalam Perjanjian Baru, kata cemburu secara harfiah berarti "membakar atau merebus." Cemburu adalah rasa sakit yang kita rasakan atas kemakmuran orang lain. Cemburu merupakan “kemarahan atas kebaikan orang lain, ditambah dengan keinginan kuat untuk merusaknya. Cemburu sungguh merupakan sebuah bentuk permusuhan. Cemburu bukan sekadar keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain, yang juga merupakan dosa mengingini (lihat Kel. 20:17). Bahkan ini merupakan keinginan untuk melihat saingan kita kehilangan apa yang mereka miliki
Paulus menyalahkan para jemaat di Korintus karena cemburu dan suka berselisih. Dalam sebuah komunitas yang ditandai dengan adanya perbedaan sosial dan teologi yang tajam, jemaat Korintus tergoda untuk memiliki semangat bersaing satu sama lain. Bukannya melihat kebaikan dalam diri orang lain, mereka justru mengkritik karunia orang lain dan mengecilkan prestasi mereka. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh kasih. Kasih sejati "tidak iri pada status dan kehormatan orang lain, tetapi bergembira demi orang lain." Bagaimana perasaan Anda sesungguhnya ketika seseorang dengan kemampuan yang sama atau lebih rendah menjadi lebih maju daripada Anda? Ini adalah ujian di mana cemburu selalu gagal dan hanya kasih yang mampu lulus.
Terdapat pula beberapa dosa yang perlu kita hindari ketika kita mengalami kesuksesan dalam hidup kita. Orang yang mengasihi tidak menuntut perhatian atas prestasinya. Memegahkan diri adalah dosa perkataan, di mana kita menggunakan perkataan kita untuk memastikan bahwa orang orang memperhatikan betapa hebatnya kita. Namun "apa yang keluar dari mulut berasal dari hati" (Mat. 15:18), sehingga Paulus juga memastikan perilaku.
Inilah hal lain yang tidak dilakukan oleh kasih: bertingkah laku tidak sopan atau menjengkelkan. Kata tidak sopan (aschemonei) dapat digunakan untuk merujuk kepada hampir semua bentuk ketidaksenonohan atau ketidaklayakan hal apa pun mulai dari tingkah laku yang buruk hingga dosa seksual yang memalukan. Dalam banyak hal yang Paulus katakan dalam surat ini jelas bahwa jemaat Korintus bersalah atas dosa-dosa ini (1 Kor. 3:1 8; 14:2, 37; 5:2). Dalam Pasal 13, Paulus sedang menunjukkan kepada jemaat Korintus bahwa akar permasalahan rohani mereka adalah kurangnya kasih. Ini juga merupakan permasalahan kita. Mengapa kita iri hati ketika orang lain memperoleh apa yang kita inginkan? Mengapa sedemikian penting bagi kita agar orang lain memuji prestasi kita? Yesus memanggil kita untuk hidup dengan melayani dalam kasih dan kerendahan hati yang sama. Kita tidak akan pernah melakukan ini jika kita dipenuhi dengan rasa cemburu.
Apakah peralatan kerja kita sebagai hamba? Kita melayani orang lain dengan perkataan kita, tidak memonopoli percakapan dan selalu menarik perhatian pada diri kita sendiri, tetapi menggunakan apa yang kita ucapkan untuk mendorong dan meneguhkan, mengarahkan perhatian pada orang lain dan akhirnya pada anugerah Allah. Kita melayani orang lain dengan tangan kita, seperti yang Yesus lakukan. Sebagian dari kita terpanggil untuk melayani di rumah, dengan lap piring dan keranjang cucian. Sebagian dari kita melayani di dapur, menggunakan panci dan wajan untuk memasak makanan. Sebagian dari kita melayani dengan membangun rumah bagi para yatim piatu, atau memeluk seorang anak yang berkebutuhan khusus, dan lain lain. Ingatlah pelayanan Yesus, dengan handuk yang melingkar di pinggang-Nya dan kasih-Nya pada lutut-Nya.