“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” - Filipi 4:13
Beberapa tahun yang lalu Ken Devis mengalami suatu persoalan keluarga yang dirasa tidak ada harapan. Tidak mudah untuk menceritakan hal yang bersifat pribadi kepada ribuan orang yang akan membaca tulisan ini, tetapi jika satu orang dapat melihat secercah cahaya pengharapan dari lobang keputusasaan, atau jika satu keluarga bisa dipelihara kesatuannya seperti keluarga Devis, maka pengalaman ini akan berguna. Selama beberapa tahun ia telah berpaling dari Tuhan, perlahan-lahan ia memutuskan mengejar kemasyhuran dan kekayaan. Dengan menghabiskan setiap saat untuk berusaha mencapai tujuan yang ingin ia raih, ia melalaikan keluarga maupun pertumbuhan rohaninya. Ia merasa telah kehilangan semua perasaan kasih terhadap istrinya, dan ia membiarkan dirinya terlibat dalam hubungan perasaan dengan orang lain. Ada perasaan benci sekali kepada orang-orang Kristen yang ia rasa hanya memanfaatkan dirinya dan perasaan marah bahwa mereka tidak mau mengulurkan tangan kepadanya ketika ia sangat membutuhkan pertolongan.
Devis merasa telah menghancurkan masa lalunya dan menutup pintu masa depannya. Tidak ada harapan untuk bisa mengasihi dirinya lagi, dan ia berada dalam situasi tanpa pengharapan. Dengan air mata mengalir di wajahnya, Devis menaikkan sebuah doa yang sederhana. Devis mengatakan kepada Allah bahwa dirinya tidak menginginkan sesuatu yang baik atau benar. Ia memberi tahu yang sebenarnya kepada Tuhan bahwa ia bahkan tidak ingin kembali mengasihi keluarganya atau hubungan rohaninya dengan Tuhan. Ia telah kehilangan seluruh pengharapan. Tetapi jauh di lubuk jiwa Devis, ia mengetahui kebenaran, namun ia tidak tertarik kepada kebenaran itu dan kebenaran itu tidak memberikan suatu pengharapan. Tetapi kebenaran itu adalah bahwa la mengasihi Devis bahkan di tengah-tengah keadaan putus asa sekalipun. Devis sama seperti Yunus yang telah lari dari Tuhan dan mendapati dirinya tertutup dari dunia untuk selamanya dengan benar-benar tidak ada harapan untuk hidup. Sebagaimana Yunus, Devis berteriak dari dalam perut (Ia berada diperut pesawat DC 10).
Sebagaimana pengalaman hidup Devis, kita sering memandang berbagai situasi sebagai tanpa harapan sebab kita menaruh pengharapan kita pada keadaan dan pada manusia, bukan pada Tuhan. Alkitab berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Mengapa kita berusaha melakukan segala sesuatu sendiri sampai situasi nampak tanpa harapan dan baru kita berpaling kepada Tuhan? Pada saat Devis akhirnya terbaring dan satu-satunya yang bisa ia lihat adalah ke atas, ia melihat bahwa sumber keselamatan dirinya adalah pada Tuhan dan pada kebenaran sederhana bahwa kasih-Nya memberikan pengharapan di saat menghadapi maut sekalipun. Mungkin ada beberapa orang yang merasa berputus asa ketika melihat ada anggota keluarga menghancurkan diri sendiri dan mengancam untuk menghancurkan seluruh keluarganya juga. Saudara mungkin tergoda untuk menjadi putus harapan, tetapi kebenaran Allah tetap. Allah cukup besar untuk mengubah hati orang itu dan bahkan yang lebih penting, Ia sanggup mengubah hati saudara.
Ketiadaan harapan bukan satu keadaan, melainkan suatu sikap terhadap keadaan. Sekarang inilah waktunya menyadari bahwa Allah adalah sumber pengharapan kita dan kita hendaknya menyerahkan semua kepada-Nya. Jika Ia bisa mengubah hati manusia pemberontak seperti Devis, tidak disangsikan lagi Ia pun bisa mengubah saudara dan orang-orang yang saudara kasihi.