“Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah-Sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur” - Mazmur 127:1-2
Rumah bukan hanya menjadi salah satu kebutuhan dasar kita (sandang, pangan dan papan) namun rumah memiliki arti khusus di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya, Tuhan memberi petunjuk bagaimana kita menciptakan suasana di dalam rumah kita. Ada dua pengertian penting untuk memahami hakekat rumah. Yang satu adalah house hal ini berbicara mengenai bentuk, struktur bangunan. Dan yang kedua adalah home, hal ini berbicara mengenai suasana isi rumah tersebut.
Rumah menjadi sumber inspirasi, tempat yang aman di tengah badai kehidupan, tempat nilai nilai itu diletakkan, dan juga tempat hubungan hubungan yang penting dibangun. Ada sebuah puisi yang mengatakan “Keindahan sebuah rumah ialah keteraturan, berkat sebuah rumah ialah rasa syukur. Kemuliaan sebuah rumah ialah keramah tamahan, dan mahkota sebuah rumah ialah kesalehan.” Tuhan memberikan berkat di atas rumah anak anak yang dikasihi-Nya. Bagaimana Alkitab mengajarkan tentang hakekat rumah?
Pertama, rumah “simbol” dari kehadiran Allah dalam keluarga kita. Kita terus-menerus dibombardir oleh kesibukan, sehingga waktu-waktu yang ada hanya untuk mengejar kekayaan, dan melupakan sumbernya. Salomo mengungkapkan tentang rahasia keberhasilan keluarga. Dalam segala hal libatkan Tuhan dan jangan melupakan Nya. Apa yang digambarkan dalam Mazmur 127 jelas sekali bahwa Allah adalah sumber dari segala galanya. Tanpa Tuhan apapun yang kita kerjakan adalah sia- sia. Apa gunanya kita bekerja, berjaga jaga dan tidak tidur, jika Tuhan tidak bersama kita? Jam-jam malam yang panjang tanpa tidur merupakan kesia-siaan belaka, apabila tanpa perkenanan Tuhan.
Syarat utama untuk mengalami berkat dalam keluarga adalah melibatkan Tuhan. “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga jaga…” Kalimat ini senada dengan kalimat “Tanpa Aku, engkau tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15 :5). Di luar Kristus kita tidak dapat menghasilkan apa-apa; dan keluar dari Kristus kita juga tidak menghasilkan apa-apa (Lukas 5:5; Yohanes 21:5). Ingatlah akan peristiwa ketika Tabut Allah dititipkan di rumah Obed Edom, keluarga tersebut diberkati dengan luar biasa (II Samuel 6:11)
Kedua, rumah tempat untuk mengasah secara tajam dan mengarahkan secara benar setiap generasi Ilahi. Sebuah rumah terbuat dari dinding dan jendela; sedangkan rumah tangga terbuat dari kasih dan cita-cita. Bila Allah diizinkan hadir dalam rumah kita, Ia bukan hanya menyediakan berkat jasmani, namun juga akan memberkati keturunan kita (Mazmur 127:3). Dari dalam rumah kita, nilai- nilai pengajaran yang rohani dan Alkitabiah itu ditanamkan. Pemazmur menggambarkan, anak itu seperti anak panah yang ditaruh di dalam tabung seorang pahlawan. Itu artinya bahwa anak-anak harus dilatih, dipersiapkan dan dididik sedini mungkin melalui kebenaran Firman Tuhan, di dalam rumah. Wibawa seorang ayah terletak pada karakter anak-anaknya.
Di dalam Alkitab, Orang tua harus bertanggung jawab untuk meletakkan pengajaran sejak sedini mungkin, dan berlangsung secara terus-menerus. Pengertian tentang Allah dan kasih sayang terhadap Allah harus ditanamkan sejak mereka masih kecil, sebab mereka berada di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Allah (Ulangan 6:4-9). Dan anak anak harus ditempa dengan Karakter Kristus melalui pendisiplinan (Amsal 23:12-14). Bila kita hanya menyerahkan pendidikan anak kepada pihak sekolah, dan juga pada pihak gereja seutuhnya, maka akan mengakibatkan ketimpangan pada pendidikan anak. Pendidikan dibangun dan diletakkan di dalam rumah. Di tengah-tengah perubahan zaman yang semakin pesat ada pengaruh negatif yang terjadi dalam diri anak. Oleh karena itu, mari kita mempertajam anak-anak kita dengan karakter Kristus dan mengarahkan mereka secara benar, maka masa depan yang penuh dengan harapan itu akan diterima oleh keluarga.